Record Detail

No image available for this title

Text

Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Senjata Api dan Bahan Peledak



Senjata api dan bahan peledak merupakan salah satu karya cipta manusia yang terus mengalami perkembangan selama ribuan tahun. Kegunaan senjata api dan bahan peledak turut mengalami perkembangan seiring dengan peradaban manusia yang terus mengikuti perkembangan zaman. Awalnya, senjata api hanya dipergunakan untuk kepentingan berperang, akan tetapi kemudian juga dipergunakan untuk kepentingan yang lain, misalnya sebagai salah satu alat atau instrumen utama dalam pembangunan pertahanan melalui penyediaan kelengkapan sarana persenjataan bagi angkatan bersenjata suatu negara, sebagai sarana untuk mendukung tugas-tugas aparat keamanan dalam melakukan pemeliharaan keamanan, ketertiban masyarakat dan penegakan hukum sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, sebagai sarana kelengkapan tugas satuan pengamanan/polisi khusus,1 sebagai sarana untuk kepentingan olahraga dan kepentingan pembelaan diri. Terkait penggunaan senjata api tersebut, berdasarkan data yang diberikan oleh Polri, sampai dengan pertengahan tahun 2012 terdapat 18.030 pucuk senjata api berizin di tangan sipil. Jumlah itu terdiri dari senjata berpeluru tajam 3.060 pucuk, berpeluru karet 9.800 pucuk, dan berpeluru gas 5.000 pucuk. Pada tahun yang sama, Polri telah menarik 10.910 senjata api karena tak memiliki izin atau izinnya habis.2 Sejalan dengan hal tersebut, bahan peledak juga berkembang digunakan untuk kepentingan industri khususnya dalam industry pertambangan minyak dan gas, pertambangan umum dan non tambang (proyek infra struktur) dalam rangka menunjang pembangunan nasional dan meningkatkan devisa negara dari hasil pengolahan sumber daya alam.3 Seiring dengan perkembangan kebutuhan penggunaannya, senjata api dan bahan peledak saat ini menjadi salah satu komoditas perdagangan yang harganya tinggidan telah diperdagangkan baik di dalam negeri maupun antara satu dan/atau beberapa negara dalam jumlah yang sangat besar. Senjata api dan bahan peledak dapat dijadikan sebagai instrumen yang sangat berbahaya apabila disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Kadiv Humas Mabes Polri menyatakan bahwa sejak 2009 hingga 2011 terdapat 453 kasus penyalahgunaan senjata api yang digunakan untuk aksi kejahatan, yaitu pada 2009 terdapat 171 kasus, tahun 2010 ada 143 kasus, dan 2011 terdapat 139 kasus. Sedangkan berdasarkan catatan Imparsial, mulai 2005 hingga 2012, tercatat 46 kasus penyalahgunaan senjata api, baik oleh aparat keamanan maupun oleh masyarakat. 4 Kondisi dapat diperarah dengan adanya kasus-kasus penyelundupan dan peredaran gelap senjata api yang tidak tertangani dengan baik. Menurut Capie, masalah peredaran dan penyelundupan senjata api ilegal atau yang lebih dikenal dengan istilah arms smuggling telah muncul sebagai masalah serius. Tidak hanya dikalangan negara, tetapi berpengaruh kepada isu-isu regional bahkan internasional. Hal ini karena keberadaan senjata api ilegal dapat memberikan pengaruh terhadap kejahatan dan situasi yang tidak stabil, baik di wilayah negara maupun kawasan, termasuk telah merusak pembangunan dan membahayakan keamanan umat manusia.



Availability

348.02 BPH n 3 (2/2)348.02 BPH n 3My Library (R 74)Available
348.02 BPH n 3 (1/2)348.02 BPH n 3My Library (R 74)Available

Detail Information

Series Title
-
Call Number
348.02 BPH n 3
Publisher Badan Pembinaan Hukum Nasional : Jakarta.,
Collation
98 hal
Language
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Classification
PERUNDANG-UNDANGAN
Content Type
-
Media Type
-
Carrier Type
-
Edition
-
Subject(s)
-
Specific Detail Info
-
Statement of Responsibility
Link Ebook

Other version/related

No other version available



Information


RECORD DETAIL


Back To PreviousXML DetailCite this


Perpustakaan Badan Litbang Hukum dan HAM

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I.

Info selengkapnya